Salah satu sisi dari pola hidup sehat rasulullah adalah dalam hal
kebiasaan beliau makan dan minum. Prof. Dr . Abdul Basith Muhammad
as-Sayyid, seorang pakar kedokteran dan biofisika, telah menulis kitab
yang sangat bagus mengenai hal ini berjudul “at-Taghdziyah an-Nabawiyah,
al-Ghadza baina ad-Daa wa ad-Dawa”.
Kitab ini telah diterbitkan di Indonesia oleh penerbit Almahira
dengan judul “Pola Makan Rasulullah, Makanan Sehat Berkualitas menurut
al-Qur’an dan as-Sunnah”. Buku ini memuat petunjuk cukup lengkap
mengenai bagaimana Nabi mengatur program diet sehat sehingga kesehatan
tubuh terjaga. 20 prinsip penting dari pola makan Rasulullah yang dapat
kita terapkan dalam pola makan kita sehari-hari seperti bagaimana
mengatur menu makanan dengan pola makan teratur sehingga hal ini berguna
bagi kita yang selama ini makan apa saja hingga menyebabkan obesitas
dapat dijadikan sebagai tips diet agar langsing kembali.
Berikut ini adalah adab makan dan minum yang dicontohkan oleh Nabi:
1. Membaca basmalah ketika hendak makan, dan mengakhiri dengan membaca hamdalah.
Barangkali hikmah membaca basmalah dan hamdalah adalah seorang muslim
selalu mengingat bahwa makanan yang disantap tidak lain adalah nikmat
dan anugerah dari Allah yang Maha Lembut dan Maha Tahu. Dia akan
terhindar dari sikap berlebih-lebihan dan mubadzir. Seorang muslim juga
akan selalu sadar bahwa makanan bukan tujuan akhir, tapi sarana menambah
kekuatan untuk menuju ketaatan kepada Allah, memakmurkan bumi dan
menaburinya dengan kebaikan.
2. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.
Nabi bersabda:
”Barangsiapa tertidur sedang di kedua tangannya terdapat bekas gajih,
lalu ketika bangun pagi dia menderita suatu penyakit, maka hendaklah dia
tidak mencela melainkan dirinya sendiri”.
Nabi sendiri jika hendak makan selalu mencuci tangan terlebih dahulu,
sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan Nasa’i dari
Aisyah ra.
3. Menjauhi sikap berlebihan dan rakus.
Makan adalah kewajiban. Dengan makan seorang muslim memperoleh kekuatan
untuk beribadah. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim
dari Abdullah ibn Umar:
”Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak yang harus kamu penuhi”.
Namun demikian kita harus ingat batasan dalam mengkonsumsi makanan, yaitu menjauhi sikap berlebihan dan rakus.
Banyak sekali dalil yang menekankan hal ini. Allah dalam surat al-A’raf ayat 31 berfirman:
”Makan dan minumlah, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.
Dan juga di surat Thaha ayat 81:
”Makanlah diantara rezeki yang baik yang telah Kami berikan pada kalian, dan janganlah melampaui batas padanya”.
Sementara Rasulullah saw sendiri telah memerintahkan untuk mengatur
waktu makan dan berpegang teguh pada etika, sebagaimana sabda Beliau:
”Kami adalah orang-orang yang tidak makan kecuali setelah lapar, dan bila makan kami tidak sampai kenyang”.
Beliau juga bersabda:
”Tidaklah anak cucu Adam mengisi wadah yang lebih buruk dari
perutnya. Sebenarnya beberapa suap saja sudah cukup untuk menegakkan
tulang rusuknya. Kalau dia harus mengisinya, maka sepertiga untuk
makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas”.
(HR. Turmudzi, Ibnu Majah, dan Muslim)
Maksudnya sebenarnya makanan dalam porsi minimal pun sudah cukup baginya
untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Di dalam hadits yang diriwayatkan
oleh Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Imam Ahmad dan Darimi, Rasulullah saw
juga bersabda:
”Makanan satu orang cukup untuk dua orang, makanan dua orang cukup untuk
empat orang, dan makanan empat orang sebenarnya cukup untuk delapan
orang”.
Dalam hadits lain disebutkan:
”Sesungguhnya termasuk sikap berlebih-lebihan bila kamu memakan segala sesuatu yang kamu inginkan”. (HR Ibnu Majah)
Beliau pun bersabda:
”Seorang mukmin makan dengan satu usus, sementara orang kafir makan
dengan tujuh usus”. (HR. Muslim, Turmudzi, Ahmad, dan Ibnu Majah)
4. Makan dengan tiga jari.
Dengan tiga jari berarti kita telah bersikap seimbang. Sebagaimana
dikatakan bahwa makan dengan lima jari menunjukkan kerakusan, sedangkan
makan dengan satu atau dua jari menunjukkan kesombongan dan keangkuhan.
5. Duduk tegak lurus saat makan dan tidak bersandar.
Rasulullah melarang seseorang makan sambil bersandar karena membahayakan kesehatan dan mengganggu pencernaan lambung.
6. Minum dengan tiga kali tegukan. Dilakukan sambil duduk dan tidak bernafas dalam gelas.
Nabi mengajarkan minum dengan menyesap (minum air dengan menempelkan
bibir ke air), bernafas di luar gelas serta tidak minum dengan cara
menenggak. Maksudnya adalah mencegah masuknya udara ke dalam lambung.
Ubay bin Ka’ab berkata:
”Nabi saw tidak pernah meniup makanan dan minuman, tidak bernafas di
dalam wadah. Bahkan beliau melarang meniup makanan dan minuman.”
Nabi saw biasa minum dengan tiga kali teguk, sambil bernafas di antara tiga kali tegukan di luar gelas dan bukan di dalamnya.
Diriwayatkan dari Anas ra bahwa Rasulullah saw bernafas tiga kali saat minum. Beliau bersabda:
”Sungguh, ini lebih mengenyangkan, menyembuhkan, dan menyegarkan”. (HR Bukhari dan Muslim)
Anas juga berkata:
”Rasulullah saw telah melarang minum sambil berdiri”. (HR Muslim)
Ibnu Abbas menambahkan:
”Rasulullah saw telah melarang minum dari mulut poci”. (HR Bukhori dan Ibnu Majah)
7. Mendahulukan makan buah-buahan sebelum makan daging (makanan utama).
Hal ini sebagai upaya untuk mengikuti apa yang dilakukan para penghuni
surga. Dalilnya adalah Qur’an surat al-Waqi’ah ayat 20-21:
”Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan”.
8. Menutup makanan dan minuman di atas meja.
Nabi mewajibkan menutup makanan untuk melindunginya dari pencemaran, sebagaimana dinyatakan dalam hadits Nabi saw.:
”Tutuplah bejana”. (HR. Muslim, Ahmad, dan Ibnu Majah)
Dalam riwayat Bukhari disebutkan:
”Tutuplah makanan dan minuman”.
Rasulullah saw bersabda:
”Tutuplah wadah tempat makanan dan minuman, karena dalam satu tahun ada
satu malam yang di malam itu turun wabah dari langit. Wabah itu tidak
menjumpai wadah yang terbuka melainkan akan ada sebagian dari wabah itu
yang mengenai wadah itu”.
9. Mencuci mulut (berkumur) sebelum dan setelah makan.
Hal ini dimaksudkan untuk membersihkan gigi dari sisa makanan dan
bakteri. Secara khusus beliau menekankan pentingnya berkumur setelah
minum susu:
”Berkumurlah kalian setelah minum susu, karena di dalamnya mengandung lemak”. (HR. Ibnu Majah)
10. Suplemen makanan terbaik adalah madu.
Rumah Nabi tidak pernah kehabisan madu. Nabi juga menganjurkan untuk meminum madu secara teratur. Nabi bersabda:
”Hendaklah kalian meminum madu”.
Adapun Nabi mengajarkan bahwa cara terbaik meminum madu adalah dengan
melarutkan satu sendok madu dengan air yang tidak dingin dan diaduk
dengan baik.
11. Tidak memasukkan makanan pada makanan.
Ada dua pendapat mengenai maksud dari memasukkan makanan pada makanan.
Pendapat pertama adalah kita dilarang makan kecuali setelah dua jam dari
waktu makan berat. Pendapat kedua adalah kita dilarang menyuap makanan
ke dalam mulut pada saat masih ada makanan di dalamnya. Dunia kedokteran
modern membuktikan bahwa kedua hal tersebut memang berdampak negatif
pada kesehatan.
12. Menjilati jari dan tempat makan.
Menjilati tempat bekas makan akan sangat membantu pencernaan. Rasulullah
saw sendiri menjilati jemari beliau setelah makan. Beliau bersabda:
”Apabila salah seorang di antara kalian selesai makan, hendaklah dia
tidak membersihkan tangannya sehingga menjilatinya”. (HR. Bukhori,
Muslim, Ahmad, Tabrani)
Hal itu menunjukkan adanya perintah untuk tidak meninggalkan sisa
makanan di tempat makan. Juga diriwayatkan Turmudzi dengan lafaz:
”Barangsiapa makan di piring, lalu ia menjilatinya, maka piring itu akan
memohonkan ampun untuknya”. (HR. Turmudzi, Ibnu Majah, Ahmad)
13. Nabi melarang menggabungkan antara susu dan ikan, cuka dan susu,
cuka dan ikan, buah dan susu, cuka dan nasi, delima dengan tepung, kubis
(kol) dengan ikan, bawang putih dengan bawang merah, makanan lama
dengan makanan baru, makanan asam dengan makanan pedas, makanan panas
dengan makanan dingin.
14. Tidak tidur setelah makan.
Nabi menganjurkan seseorang berjalan-jalan setelah makan malam. Tapi
bisa juga digantikan oleh shalat. Hal ini dimaksudkan agar makanan yang
dikonsumsi masuk lambung dengan tepat sehingga bisa dicerna dengan baik.
Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Nabi saw bersabda:
”Cairkan makanan kalian dengan berdzikir kepada Allah yang Mahatinggi
dan shalat, serta janganlah kalian tidur setelah makan, karena dapat
membuat hati kalian menjadi keras”. (HR. Abu Naim dengan sanad dha’if)
Diriwayatkan dari Anas dengan status marfu’:
”Makan malamlah sekalipun hanya dengan kurma kering (yang rusak), karena meninggalkan makan malam dapat mempercepat penuaan”.
15. Makan bersama-sama dan tidak sendiri-sendiri.
Hal ini menyebarkan sekaligus menciptakan nuansa penuh kasih sayang dan
rasa saling mencintai yang tentunya akan memberi nilai positif bagi
selera makan.
16. Makan sambil berbincang dan tidak diam.
Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan suasana rileks dan menyenangkan saat makan.
17. Menghormati budaya dan tradisi makan yang ada di tempat kita
makan. Dilarang menghina atau membenci makanan, sekalipun makanan itu di
luar kebiasaan kita.
18. Bersikap lembut terhadap orang sakit dengan tidak memaksakan makanan tertentu.
19. Menjaga perasaan orang lain dengan tidak membelakangi posisi
mereka. Hal ini bisa menyebabkan terganggunya selera makan orang
tersebut.
20. Tidak mengkonsumsi makanan yang terlalu panas dan minuman yang terlalu dingin.
Dalam buku ”Muhammad Seorang Milyuner” karya Dr. Ali Syu’aibi (2004),
pada bagian ketiga kita bisa menemukan setidaknya tiga anjuran
Rasulullah berkaitan dengan pola makan:
1. Tidak memakan daging setiap hari, melainkan berselang hari.
Diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dari Aisyah ra, dia mengatakan bahwa
bagian lengan atas adalah daging yang paling disukai Nabi. Namun beliau
tidak memakan daging setiap hari. Maka yang tersisa ditangguhkan untuk
keesokan harinya.
2. Tidak memakan buah pada saat baru sembuh dari sakit.
Diriwayatkan dari Ummu Al-Mundzir binti Qais, seorang wanita Anshar, dia
mengatakan: ”Rasul datang kepadaku bersama Ali yang waktu itu baru
sembuh dari sakit. Kebetulan waktu itu kami punya buah yang masih
tergantung di pohonnya. Rasul pun berdiri dan dan memetik buah dan
memakannya. Ali juga ikut memetik, namun ketika akan memakannya, Rasul
mencegah seraya berkata: “Jangan Ali, kamu baru sembuh dari sakit”. Ali
pun mengurungkan niatnya. Maka aku membuat roti dan makanan yang direbus
dan membawakannya pada mereka. Maka Rasul pun berkata pada Ali:
“Makanlah ini. Ini lebih baik untukmu””. (HR. Abu Dawud)
3. Tidak pernah menolak undangan makan, bahkan jika yang dihidangkan nilainya sangat murah.
Rasul tidak pernah menolak undangan makan apapun selama makanan yang
dihidangkan itu halal, meskipun makanan itu sangat murah. Beliau
berkata: “Jika kalian diundang untuk menghadiri jamuan makan, maka
hadirilah. Kalau suka makanlah, kalau tidak, tinggalkan”. (HR. Abu
Dawud)
Sebagaimana Rasul juga pernah mengatakan: “Kalau aku diundang untuk
menghadiri suatu jamuan, meskipun yang dihidangkan hanya kaki atau
tangan, aku akan datang. Begitu juga kalau aku diberi hadiah tangan atau
kaki, aku pasti menerimanya”. (HR. Bukhori)
Dari aswaja.net








0 komentar:
Posting Komentar